“Laku Bunyi” dari Memet Chairul Slamet
23 Februari 2012 09:43:56
Yogyakarta, Jogjatrip.com – Komposer kontemporer, Memet Chairul Slamet akan menggelar karya terbarunya bertajuk “Laku Bunyi” di Lembah Manah, Singosaren, Banguntapan, Bantul Sabtu (25/2) pukul 19.30 WIB. Penampilan ini merupakan karya terbaru Memet setelah sebelumnya menampilkan pagelaran “Air” (2010) dan “Batu” (2011). “Penggarapan ‘Laku Bunyi’ ini disiapkan hanya 3 bulan,” kata Memet Chairul Slamet pada wartawan, Rabu (22/2).
Dalam menggarap “Laku Bunyi”, Memet dibantu oleh Dodi Precil (instalasi musik), Dwi Heryana dan Iwan Gunawan (artistik), serta Herman (produser). Di tangan Memet, media musik yang disuarakan banyak memanfaatkan kumpulan sampah kaleng maupun botol plastik. Konsep yang diusung adalah instalasi bunyi sebagai representasi sekaligus perenungan suatu kondisi kulminasi ketika manusia sibuk dengan kehidupan praktis maupun digital.
“Yang membuat instalasi musik adalah mas Dodi dengan mengumpulkan puluhan kaleng bekas, besar dan kecil. Saya sendiri yang akan memainkan dengan menggunakan kedua tangan maupun kedua kaki saya dengan menarik-narik tali yang dihubungkan dengan kaleng,” kata pria kelahiran Bangkalan, Madura, 16 Januari 1958 ini.
Musik Memet bukan untuk menghasilkan susunan nada maupun irama yang mendayu, melainkan komposisi pemaknaan serta pemanfaatan limbah dalam sebuah entititas bunyi-bunyian. Memet dengan kreativitasnya ingin mengungkapkan naluri primitif rasa musikal manusia dalam bentuk sederhana tanpa menghilangkan intuisi segi estetis. “Laku Bunyi, menggugah kesadaran akan banyaknya benda di sekitar kita yang tidak berguna tapi sebenarnya jika disentuh dengan kreativitas akan memunculkan sesuatu yang lebih bermakna,” kata Memet.
Pagelaran “Laku Bunyi”, yang menurut rencana akan berdurasi 60 menit tersebut, bertujuan untuk menggugah orang-orang kampung di sekelilingnya untuk memanfaatkan barang bekas bagi dunia seni yang direkayasa. Bagi Memet, penonton sedikit tidak masalah, namun hal terpenting adalah para penonton harus berangkat dari kebebasan berpresepsi. Sebab kalau penonton sudah berangan-angan dengan bunyi musik yang diharapkan, tidak akan ketemu di “Laku Bunyi”.
Dalam penampilan ini, Memet yang sebenarnya memiliki spesialisasi bermain flute akan menjajal permainan seruling. Semua bunyi-bunyi alam akan direspon dengan bunyi-bunyi yang lain. Tidak ada panggung yang megah, tapi berbentuk teater arena dengan penerangan obor bambu. Di sinilah, Memet mengajak penonton untuk mengembalikan makna ekspresi estetis bunyi yang otentik. *** (Teguh R Asmara)