Mengenang Wijaya dalam Sastra Malioboro
08 Februari 2012 15:06:33
Yogyakarta, Jogjatrip.com -- Paguyuban Sastrawan Mataram (PSM) Yogyakarta dalam perhelatan Malam Sastra Malioboro edisi Februari 2012 akan mengusung title, “A Tribute to Widjaja”. Menurut rencana, pagelaran ini akan dihelat di Titik Nol Kilometer depan kantor pos besar, Sabtu (11/2) malam. “Dipilihnya Widjaja sebagai tema 'Malam Sastra Malioboro' edisi Februari 2011, karena kontribusinya terhadap kesenian di Yogyakarta dan Indonesia sangat besar,” kata Koordinator PSM, Sigit Sugito.
Acara “Malam Sastra Malioboro: A Tribute to Widjaja” akan dimeriahkan aksi pantomim Jemek Supardi, Sujud “Kendang” Sutrisno, Different Color Band, Dagelan Mataram generasi dadakan: Dewo PlO, Alit Jabang Bayi, dan Novi Kalur. Selain itu juga dimeriahkan oleh penampilan dari teman-teman dan anak buah Widjaja, seperti Liek Suyanto, Puntung CM Pudjadi, dan Bambang JP. Sedangkan acara akan dipandu oleh Wahyana Giri dan Novi Pristiani.
Di mata keluarga, Widjaja dikenal sebagai sosok yang disiplin namun tetap bersahaja. Wisnu Wardhana, anak pertama Widjaja, mengakui bahwa bapaknya adalah orang yang disiplin. “Beliau guru juga teman. Pintar menghidupkan suasana menjadi lebih cair. Terhadap anak-anaknya, juga mendidik dengan kasih sayang. Anak diarahkan sesuai keinginan hati dan hobinya. Tidak dipaksa. Itu kelebihan Bapak,” ujar Wisnu yang tinggal di Demakijo Sleman.
Menurut Sigit Sugito, Widjaja merupakan seniman multi bidang. Seniman yang meninggal pada 8 Desember 2000 silam ini, dikenal sebagai pembina seni tradisi. Banyak bidang yang digeluti Widjaja, antara lain: film, teater, tari, lukis, ketoprak, lawak, dan keroncong. Widjaja yang semasa hidupnya tinggal di Suryatmajan, juga dikenal sebagai jurnalis dan pejuang kemerdekaan.
Semasa pendudukan Belanda di Yogyakarta (1948-1949), Widjaja menjadi pemimpin rakyat dalam perang gerilya di kota. Selain mengangkat senjata, Widjaja dan kawan-kawan menerbitkan koran stensilan Siaran Gerilya Rakyat dalam Kota. Pada masa perjuangan, Widjaja dan teman-teman yang tergabung di Sandiwara Rakyat Indonesia, melakukan pentas keliling di berbagai front perjuangan untuk menghibur para pejuang.
Widjaja juga dikenal sebagai tokoh film karena sedikitnya telah membintangi 80 film, antara lain: Sunan Kalijaga, Perawan Desa, Siulan Rahasia, Jaka Tarub, Ponirah Terpidana, dan Api di Bukit Menoreh. Pria kelahiran 28 Februari 1927 ini pernah menjabat sebagai Ketua Parfi DIY selama 31 tahun (1956-1987). Widjaja juga membina banyak pelawak hingga mendirikan dan menjadi Ketua Persatuan Artis Humor (Pamor) DIY, Ketua Lawak Kawan Rakyat, Pimpinan Komidi Kalang Kabut, dan Ketua Sanggar Lawak Yogya.
Totalitas berkesenian yang tanpa pamrih membuat Widjaja mendapat banyak penghargaan. Beberapa penghargaan tersebut, antara lain dari Direktorat Kesenian Ditjen Kebudayaan Departemen P & K Republik Indonesia, Badan Koordinasi Kesenian Nasional Pusat Jakarta 1989 (sebagai pembina dan pengamat ketoprak), dan Pemprov DIY 1991 (sebagai Pembina seni).
Kemampuan lain dari seorang Widjaja adalah kiprahnya dalam dunia tulis-menulis. Sepanjang usia, Widjaja telah menghasilkan berbagai karya tulis, antara lain: Si Kembar Handaka (cerita berjilid, 1967-1968) dan Kelahiran dan Perkembangan Ketoprak (bersama Dr. FA Sutjipto). *** (Teguh R Asmara)